Khamis, 8 Disember 2011
Rabu, 15 Disember 2010
TENTANG ^*^* PERSAHABATAN^*^*
I. Indahnya Persahabatan
Tiada mutiara sebening cinta..
Tiada sutra sehalus kasih sayang..
Tiada embun sesuci ketulusan hati..
Dan tiada hubungan seindah persahabatan..
Sahabat bukan
MATEMATIKA yang dapat dihitung nilainya..
EKONOMI yang mengharapkan materi..
PPKN yang dituntut oleh undang-undang..
Tetapi
Sahabat adalah SEJARAH yang dapat dikenang sepanjang masa..
II. Puisi Persahabatan
Sahabat tak ubahnya atmosfer
Yang melindungi semua makhluk di bumi
Dengan merdam sebuah energi besar
Menjadi sumber dari segala kehidupan
Pastinya kita semua sepakat bahwa persahabatan memang sangat indah, maka untuk mengungkapkannya pun harus dengan kata-kata yang sepadan untuk bisa mewakili rasa persahabatan itu sendiri. Keindahan sahabat diungkapkan Kahlil Gibran dalam puisi persahabatan berikut:
Sajak Persahabatan
Dan seorang remaja berkata,
Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.
Dan dia menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati,
yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.
Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya,
kau tiada takut membisikkan kata Tidak
di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata Ya.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya;
kerana tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan,
segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi,
dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya,
mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya,
bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki,
nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya,
bukanlah cinta,
tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan,
biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Karena dalam titisan kecil embun pagi,
hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.
Betapa puisi persahabatan tersebut terasa penuh makna kehidupan yang tidak pernah akan kering karena disirami oleh rasa percaya akan sesama sahabat yang begitu melekat dalam hati.
Jika Anda ingin membuat puisi persahabatan, maka sebenarnya tidak ada ketentuan baku yang membatasinya. Anda bisa secara bebas menuangkan isi hati Anda. Adapun letak kesuksesan puisi ini tentu saja ketika bisa dinikmati oleh banyak orang, akan kedalaman makna persahabatan yang terkandung didalamnya.
Tiada mutiara sebening cinta..
Tiada sutra sehalus kasih sayang..
Tiada embun sesuci ketulusan hati..
Dan tiada hubungan seindah persahabatan..
Sahabat bukan
MATEMATIKA yang dapat dihitung nilainya..
EKONOMI yang mengharapkan materi..
PPKN yang dituntut oleh undang-undang..
Tetapi
Sahabat adalah SEJARAH yang dapat dikenang sepanjang masa..
II. Puisi Persahabatan
Sahabat tak ubahnya atmosfer
Yang melindungi semua makhluk di bumi
Dengan merdam sebuah energi besar
Menjadi sumber dari segala kehidupan
Pastinya kita semua sepakat bahwa persahabatan memang sangat indah, maka untuk mengungkapkannya pun harus dengan kata-kata yang sepadan untuk bisa mewakili rasa persahabatan itu sendiri. Keindahan sahabat diungkapkan Kahlil Gibran dalam puisi persahabatan berikut:
Sajak Persahabatan
Dan seorang remaja berkata,
Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.
Dan dia menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati,
yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.
Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya,
kau tiada takut membisikkan kata Tidak
di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata Ya.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya;
kerana tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan,
segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi,
dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya,
mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya,
bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki,
nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya,
bukanlah cinta,
tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan,
biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Karena dalam titisan kecil embun pagi,
hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.
Betapa puisi persahabatan tersebut terasa penuh makna kehidupan yang tidak pernah akan kering karena disirami oleh rasa percaya akan sesama sahabat yang begitu melekat dalam hati.
Jika Anda ingin membuat puisi persahabatan, maka sebenarnya tidak ada ketentuan baku yang membatasinya. Anda bisa secara bebas menuangkan isi hati Anda. Adapun letak kesuksesan puisi ini tentu saja ketika bisa dinikmati oleh banyak orang, akan kedalaman makna persahabatan yang terkandung didalamnya.
perempuan itu,isterik &*&*&*
Perempuan yang aku sayangi
Adalah pencita agama Tuhannya
Yang mengalir cinta,takut dan harap
Yang menguasai perjalanan penghidupannya
Dari waktu ke waktu
Dari hari ke hari
Sehingga perjanjian
Di antara jasad dan nyawanya berakhir
Perempuan yang aku rindui
Adalah perempuan yang di mata dan wajahnya
Terpancar sinar Nur Ilahi
Lidahnya basah dengan zikrullah
Di sudut hati kecilnya
Sentiasa membesarkan Allah
Perempuan yang aku cintai
Yang menutup auratnya
Dari pandangan mata lelaki ajnabi
Kehormatan dirinya menjadi mahalnilainya
Disanjung tinggi Penduduk langit dan bumi
Perempuan yang aku impikan
Adalah yang mendekatkan
Hatiku yang telah jauh
Kepada Ar-Rahman, Ar-Rahim
Namun aku tidak ada di sana
Kerana aku dilamar kebendaan dunia
Perempuan yang aku kasihi
Yang bersyukur pada yang ada
Yang bersabar pada yang tiada
Cinta pada hidup yang sederhana
Yang tidak bermata benda
Perempuan yang aku suka
Menjadi dian pada dirinya sendiri
Yang menjadi pelita untuk putera puteriku
Yang bakal dilahirkanuntuk menyambung
Perjuanganku dibelakang hari
Sesungguhnya
Perempuan yang selalu Berada di dalam doaku
Adalah engkau, isteriku
Adalah pencita agama Tuhannya
Yang mengalir cinta,takut dan harap
Yang menguasai perjalanan penghidupannya
Dari waktu ke waktu
Dari hari ke hari
Sehingga perjanjian
Di antara jasad dan nyawanya berakhir
Perempuan yang aku rindui
Adalah perempuan yang di mata dan wajahnya
Terpancar sinar Nur Ilahi
Lidahnya basah dengan zikrullah
Di sudut hati kecilnya
Sentiasa membesarkan Allah
Perempuan yang aku cintai
Yang menutup auratnya
Dari pandangan mata lelaki ajnabi
Kehormatan dirinya menjadi mahalnilainya
Disanjung tinggi Penduduk langit dan bumi
Perempuan yang aku impikan
Adalah yang mendekatkan
Hatiku yang telah jauh
Kepada Ar-Rahman, Ar-Rahim
Namun aku tidak ada di sana
Kerana aku dilamar kebendaan dunia
Perempuan yang aku kasihi
Yang bersyukur pada yang ada
Yang bersabar pada yang tiada
Cinta pada hidup yang sederhana
Yang tidak bermata benda
Perempuan yang aku suka
Menjadi dian pada dirinya sendiri
Yang menjadi pelita untuk putera puteriku
Yang bakal dilahirkanuntuk menyambung
Perjuanganku dibelakang hari
Sesungguhnya
Perempuan yang selalu Berada di dalam doaku
Adalah engkau, isteriku
jika aku jatuh cinta ^(^(^(
Ya Allah,
jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang
yang melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Ya Muhaimin,
jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya
agar tidak melebihi cintaku pada-Mu.
Ya Allah,
jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang
yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semua.
Ya Rabbana,
jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya
agar tidak berpaling pada hati-Mu.
Ya Rabbul Izzati,
jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang
yang merindui syahid di jalan-Mu.
Ya Allah,
jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar
tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.
Ya Allah,
jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan
indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.
Ya Allah,
jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih
dan terjatuh dalam perjalanan
panjang menyeru manusia kepada-Mu.
Ya Allah,
jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas
sehingga melupakan aku pada cinta hakiki
dan rindu abadi hanya kepada-Mu.
Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini
Telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-MU,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kukuhkanlah ya Allah ikatannya.
Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu
yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami
dengan limpahan keimanan kepada-Mu
dan keindahan
bertawakal di jalan-Mu….
ameen Ya Robb…
“AKU CINTA PADA MU KERANA DUA SISI CINTA…AKU CINTA AKAN DIRIMU..AKU SELALU MENGINGATI MU,BUKAN YG SELAIN MU ..ADAPUN CINTA KERANA ENGKAU PATUT DICINTAI ..AKU TIDAK MENGETAHUI ALAM SEBELUM AKU TAHU AKAN DIRI MU..TIADA PUJI DALAM HAL INI,DAN ITU BAGI DIRI KU..TETAPI..PUJI DALAM HAL INI ,DAN ITU ADALAH HANYA UNTUK MU..YA RABB” ”
jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang
yang melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Ya Muhaimin,
jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya
agar tidak melebihi cintaku pada-Mu.
Ya Allah,
jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang
yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semua.
Ya Rabbana,
jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya
agar tidak berpaling pada hati-Mu.
Ya Rabbul Izzati,
jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang
yang merindui syahid di jalan-Mu.
Ya Allah,
jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar
tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.
Ya Allah,
jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan
indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.
Ya Allah,
jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih
dan terjatuh dalam perjalanan
panjang menyeru manusia kepada-Mu.
Ya Allah,
jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas
sehingga melupakan aku pada cinta hakiki
dan rindu abadi hanya kepada-Mu.
Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini
Telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-MU,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kukuhkanlah ya Allah ikatannya.
Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu
yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami
dengan limpahan keimanan kepada-Mu
dan keindahan
bertawakal di jalan-Mu….
ameen Ya Robb…
“AKU CINTA PADA MU KERANA DUA SISI CINTA…AKU CINTA AKAN DIRIMU..AKU SELALU MENGINGATI MU,BUKAN YG SELAIN MU ..ADAPUN CINTA KERANA ENGKAU PATUT DICINTAI ..AKU TIDAK MENGETAHUI ALAM SEBELUM AKU TAHU AKAN DIRI MU..TIADA PUJI DALAM HAL INI,DAN ITU BAGI DIRI KU..TETAPI..PUJI DALAM HAL INI ,DAN ITU ADALAH HANYA UNTUK MU..YA RABB” ”
taubat ibarats menangis selepas ketawa >*>*>*
Riwayat dari Saidina Ali.r.a ,bahawa seorang lelaki setelah selesai dari menunaikan solat,lantas berdoa kepada ALLAH dengan berkata:
“Ya ALLAH Ya Tuhanku,aku bertaubat kepada-MU sekarang juga.”.
Apabila Saidina Ali mendengar do’a orang itu lantas Saidina Ali pun berkata:
“Wahai anda yang sedang berdoa,sesungguhnya taubat yang engkau lakukan secara semberono adalah taubat yang dusta,dan taubatmu itu memerlukan satu taubat yang lain.”
Maka berkata pula lelaki itu :
“Wahai Amirul mukminin Saidina Ali, sekiranya engkau menyuruh aku bertaubat yang lain pula,maka apakah sebenarnya taubat itu?..tolong terangkan kepada saya.”
Kata Saidina Ali kepada lelaki itu:
“Bahawa yang di katakan taubat itu ada enam pengertian:
Yang pertama :
sekiranya kamu telah melakukan dosa yang lalu,maka taubatnya hendaklah kamu menyesali segala kesalahan kesalahan dan dosamu itu.
Yang kedua :
jika kamu melakukan kesalahan dan dosa kepada ALLAH kerana meninggalkan perintah yang wajib,maka hendaklah kamu mengerjakan semula kewajipan yang telah ditinggalkan itu.
Yang ketiga :
sekiranya kamu melakukan kezaliman kepada orang lain,maka taubatnya ialah bahawa wajib bagi kamu memulangkan apa-apa juga yang berlaku kepada orang itu,sehingga tiada lagi perkara yang bersangkutan dengan orang yang kamu zalimi itu dan dia memaafkan segala penganiayaan yang kamu lakukan terhadapnya itu.
Yang keempat :
maka sekiranya kamu melakukan maksiat sehingga diri dan dan jiwamu sebati dengan maksiat itu,maka demikian jugalah kamu wajib melakukan taat kepada ALLAH sehingga jiwamu sebati dengan ketaatan itu.
Yang Kelima :
sebagaimana lazat dan manisnya maksiat itu,maka demikian jugalah kamu wajib melakukan taat kepada ALLAH sehingga jiwamu sebati dengan ketaatan itu.
Yang keenam :
sekiranya kamu melakukan maksiat kepada ALLAH dalam keadaan kamu gembira dengan gelak ketawa,maka sampailah giliran kamu menangis menyesali dosa yang kamu lakukan itu berserta mengerjakan segala ketaatan kepada ALLAH swt.
Demikianlah pengertian taubat menurut Saidina Ali.r.a. bahawa urusan taubat itu bukan satu tugas sampingan yang dilakukan secara sambil lewa dan tergopoh-gapah.Walaupun lidah menyebut perkataaan taubat,namun ia tidak semestinya menjadi suatu permohonan taubat yang sebenar.
Taubat sekadarnya pada lidah tanpa menzahirkan tanda-tanda penyesalan yang lampau,dapat dibuktikan sebagai suatu permainan lidah semata-mata sekiranya dia masih lagi mengekallkan perbuatan yang membawa kepada dosa,maka bagi Saidina Ali r.a perbuatan tersebut hanyalah suatu pendustaan terhadap ALLAH s wt.
Saidina Ali menyifatkan taubat seperti itu adalah dusta,maka taubatnya itu bukan sahaja tidak menggugurkan dosa,malah ia menambahkan lagi dosa kepada dirinya,kerana ia telah berdusta kepada ALLAH dengan permainan lidah sekadar menyebut kalimah taubat sedangkan pada hakikatnya dia masih lagi mengekalkan perbuatan dosa.
Dosa yang disebabkan meninggalkan perintah wajib dari ALLAH,sama ada solat ,puasa ,zakat dan lain-lain lagi,maka meninggalkan kewajipan tersebut ibarat seseorang telah berhutang kepada ALLAH swt.Tanggungjawab orang yang berhutang mestilah membayar balik segala hutangnya itu.
Justeru itu tiada jalan lain melainkan dia mesti membayar semula segala hutangnya iaitu hutang kewajipan yang tertinggal itu,jika dia meninggalkan solat,maka dia mesti mengiranya semula berapa tahun dia meninggalkan solat dari jumlah tahun itu dapatlah dia menganggarkan jumlah waktu solatnya yang tertinggal,maka sebanyak itu dia mengqada solatnya sehingga selesai.
Begitulah juga sekiranya dia meninggalkan kewajipan yang lain,kerana jika dia tidak mengantinya semula,maka taubatnya tidak tergolong sebagai taubat yang tidak memenuhi syarat.
Saidina Ali menjelaskan sekiranya seseorang itu hendak bertaubat dari kejahatannya kerana menzalimi orang lain,maka tidak boleh tidak dia mesti memohon maaf,di atas apa jua kezaliman yang dilakukannya.Sekiranya ia melibatkan wang ringgit dan harta benda yang diambil secara bathil,sama ada mencuri,menipu dan rasuah,maka semua itu mesti diselesaikan dengan menjelaskan secara terperinci,pulangkan segala harta yang diambil secara zalim sehingga orang yang dizalimi berpuas hati dengan penyelesaian yang dilakukan.
Apabila segalanya sudah selesai maka barulah dia mendapatkan kemaafan dari orang yang berkaitan itu,setelah dimaafkan barulah dia boleh memohon taubat dari Akkah s wt.
Penglibatan seseorang dalam kegiatan maksiat lazimnya perbuatan itu menjerumuskan dirinya dan juga jiwanya sehingga benar-benar bebati dengan maksiat itu,oleh k erana itulah dia merassa seonok dan lazat dengan maksiat itu.Jika hati berbelah bahagi antara hendak melakukan maksiat dan takut kepada ALLAH ,nescaya dia dia berada di persimpangan jalan,akhirnya mungkin dia tidak akan melakukan maksiat itu.
Apabila seseorang itu sudah sebati dengan kejahatan,maka cara bertaubatnya juga memerlukan kesebatian diri dan jiwa dalam menyesali kesalahan yang dilakukan,serta menyatukan jiwa dengan ketaatan,sehingga tidak lagi berbelag bagi antara ketaatan dan kejahatan.
Sebagaimana kita memasak timah sehingga lebur,selepas itu di tuang ke dalam acuan,maka demikian juga acuan ketaatan itu yang menjadikan seseorang itu sebati dalam jiwanya,dengan demikian dia tidak mungkin menoleh lagi kepada kemaksiatan.
Selain itu,segala maksiat itu lazimnya adalah perkara yang disenangi oleh nafsu,sehingga terasa manis dan lazatnya maksiat itu.Orang sanggup mengorbankan harta benda dan maruah untuk melakukan berbagai-bagai maksiat yang sangat manis untuk dikecapi nafsu.Maka tidak dapat tidak apabila hendak bertaubat,dia terpaksa menerima hakikat bahawa ketaatan itu sgt pahit,dia terpaksa menghabiskan kesenangan hidup semata-mata kerana hendak menebus kesalahan yang lalu,dan semuanya adalah pahit.
Tetapi yang pahit itu merupakan ubat,maka sekali-kali dia tidak akan memuntahkannya,sebaliknya dia mesti menelannya kerana dia sedar bahawa ibarat orang sakit..berharap bahawa kepahitan itu akan dapat menyembuhkan dirinya dari segala dosa
Kata-kata hukama’”Jalan menuju ke neraka itu dikelilingi dengan kemanisan dan kelazatan,kerana semuanya adalah sesuai dengan runtutan nafsu.Sebaliknya jalan ke syurga itu dikelilingi oleh onak duri kepahitan”..Sifat taat itu amat sulit untuk dicapai untuk dicapai,dia terpaksa menempuh segala pahit getir,namun terpaksa ditelan kerana dia sudah berazam untuk sembuh dari dosanya.
Dan akhirnya manusia terpaksa menangisi segala keterlanjuran yang laluu,setiap ketika dia terpaksa menitiskan air mata sebagai balasan kepada gelak ketawa mereka ketika mereka melakukan maksiat dan dosa dahulu.Memang begitulah adatnya,apabila sudah terlalu byk ketawa,akhirnya dia terpaksa menangis kerana penyesalan.
Sesungguhnya manusia seharusnya tidak ada masa untuk ketawa,kerana ketawa iu adalah bagi mereka yang tidak mempunyai sebarang masalah,sebab itu mereka sentiasa gembira.Manusia sebenarnya mempunyai permasalahan yang sukar umtuk diselesaikan,lantaran itu mereka tidak ada waktu untuk ketawa.
Justeru itu,meskipun Rasulullah s a w pernah ketawa apabila gembira,tetapi sekadar kelihatan gigi hadapannya sahaja,jauh sekali dari ketawa berdekah-dekah.Nabi pernah menyatakan kehairanan apabila melihat orang yang gelak ketawa,sehingga dia bertanya kepada orang itu,adakah dia sudah tahu bahawa dia pasti menjadi ahli syurga?Jika tidak,mengapa dia harus ketawa,sepatutnya seseorang itu menangis kerana dia belum tahu bagaimana nasibnya di akhirat kelak..
Orang yang boleh ketawa berdekah-dekah sedangkan dia tidak tahu nasib dirinya di akhirat kelak,tidak ubah seperti haiwan ternakan yang terus menguyah rumput walaupun tukang sembelih sudah menunggu di sisinya bersama-sama pisau yang tajam.
SUNAT PUASA HARI TASU'A & 'ASYURA
Tuesday, December 14, 2010 2:57 PM
Bersempena dengan kedatangan hari sembilan (tasu’a) dan sepuluh (‘asyura) Muharram ini bersamaan 15 & 16 Disember, kita semua disunatkan berpuasa pada hari-hari berkenaan. Sekurang-kurangnya berpuasalah pada sepuluh Muharram. Ini seperti yang ditunjukkan dalam hadis-hadis berikut;
عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ
Daripada Ibn Abbas r.a.:“Bahawa Rasulullah s.a.w. berpuasa pada hari ‘asyura dan memerintahkan agar berpuasa padanya”. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dalam sahih mereka).
عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.
Daripada Abu Qatadah r.a. : bahawa Rasulullah s.a.w ditanya tentang puasa hari ‘asyura. Baginda menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (Riwayat Muslim)
وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.
Daripada Ibn Abbas r.a. beliau berkata: “Rasulullah s.a.w bersabda, “Sekiranya aku masih hidup sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (Riwayat. Muslim).
“Ya ALLAH Ya Tuhanku,aku bertaubat kepada-MU sekarang juga.”.
Apabila Saidina Ali mendengar do’a orang itu lantas Saidina Ali pun berkata:
“Wahai anda yang sedang berdoa,sesungguhnya taubat yang engkau lakukan secara semberono adalah taubat yang dusta,dan taubatmu itu memerlukan satu taubat yang lain.”
Maka berkata pula lelaki itu :
“Wahai Amirul mukminin Saidina Ali, sekiranya engkau menyuruh aku bertaubat yang lain pula,maka apakah sebenarnya taubat itu?..tolong terangkan kepada saya.”
Kata Saidina Ali kepada lelaki itu:
“Bahawa yang di katakan taubat itu ada enam pengertian:
Yang pertama :
sekiranya kamu telah melakukan dosa yang lalu,maka taubatnya hendaklah kamu menyesali segala kesalahan kesalahan dan dosamu itu.
Yang kedua :
jika kamu melakukan kesalahan dan dosa kepada ALLAH kerana meninggalkan perintah yang wajib,maka hendaklah kamu mengerjakan semula kewajipan yang telah ditinggalkan itu.
Yang ketiga :
sekiranya kamu melakukan kezaliman kepada orang lain,maka taubatnya ialah bahawa wajib bagi kamu memulangkan apa-apa juga yang berlaku kepada orang itu,sehingga tiada lagi perkara yang bersangkutan dengan orang yang kamu zalimi itu dan dia memaafkan segala penganiayaan yang kamu lakukan terhadapnya itu.
Yang keempat :
maka sekiranya kamu melakukan maksiat sehingga diri dan dan jiwamu sebati dengan maksiat itu,maka demikian jugalah kamu wajib melakukan taat kepada ALLAH sehingga jiwamu sebati dengan ketaatan itu.
Yang Kelima :
sebagaimana lazat dan manisnya maksiat itu,maka demikian jugalah kamu wajib melakukan taat kepada ALLAH sehingga jiwamu sebati dengan ketaatan itu.
Yang keenam :
sekiranya kamu melakukan maksiat kepada ALLAH dalam keadaan kamu gembira dengan gelak ketawa,maka sampailah giliran kamu menangis menyesali dosa yang kamu lakukan itu berserta mengerjakan segala ketaatan kepada ALLAH swt.
Demikianlah pengertian taubat menurut Saidina Ali.r.a. bahawa urusan taubat itu bukan satu tugas sampingan yang dilakukan secara sambil lewa dan tergopoh-gapah.Walaupun lidah menyebut perkataaan taubat,namun ia tidak semestinya menjadi suatu permohonan taubat yang sebenar.
Taubat sekadarnya pada lidah tanpa menzahirkan tanda-tanda penyesalan yang lampau,dapat dibuktikan sebagai suatu permainan lidah semata-mata sekiranya dia masih lagi mengekallkan perbuatan yang membawa kepada dosa,maka bagi Saidina Ali r.a perbuatan tersebut hanyalah suatu pendustaan terhadap ALLAH s wt.
Saidina Ali menyifatkan taubat seperti itu adalah dusta,maka taubatnya itu bukan sahaja tidak menggugurkan dosa,malah ia menambahkan lagi dosa kepada dirinya,kerana ia telah berdusta kepada ALLAH dengan permainan lidah sekadar menyebut kalimah taubat sedangkan pada hakikatnya dia masih lagi mengekalkan perbuatan dosa.
Dosa yang disebabkan meninggalkan perintah wajib dari ALLAH,sama ada solat ,puasa ,zakat dan lain-lain lagi,maka meninggalkan kewajipan tersebut ibarat seseorang telah berhutang kepada ALLAH swt.Tanggungjawab orang yang berhutang mestilah membayar balik segala hutangnya itu.
Justeru itu tiada jalan lain melainkan dia mesti membayar semula segala hutangnya iaitu hutang kewajipan yang tertinggal itu,jika dia meninggalkan solat,maka dia mesti mengiranya semula berapa tahun dia meninggalkan solat dari jumlah tahun itu dapatlah dia menganggarkan jumlah waktu solatnya yang tertinggal,maka sebanyak itu dia mengqada solatnya sehingga selesai.
Begitulah juga sekiranya dia meninggalkan kewajipan yang lain,kerana jika dia tidak mengantinya semula,maka taubatnya tidak tergolong sebagai taubat yang tidak memenuhi syarat.
Saidina Ali menjelaskan sekiranya seseorang itu hendak bertaubat dari kejahatannya kerana menzalimi orang lain,maka tidak boleh tidak dia mesti memohon maaf,di atas apa jua kezaliman yang dilakukannya.Sekiranya ia melibatkan wang ringgit dan harta benda yang diambil secara bathil,sama ada mencuri,menipu dan rasuah,maka semua itu mesti diselesaikan dengan menjelaskan secara terperinci,pulangkan segala harta yang diambil secara zalim sehingga orang yang dizalimi berpuas hati dengan penyelesaian yang dilakukan.
Apabila segalanya sudah selesai maka barulah dia mendapatkan kemaafan dari orang yang berkaitan itu,setelah dimaafkan barulah dia boleh memohon taubat dari Akkah s wt.
Penglibatan seseorang dalam kegiatan maksiat lazimnya perbuatan itu menjerumuskan dirinya dan juga jiwanya sehingga benar-benar bebati dengan maksiat itu,oleh k erana itulah dia merassa seonok dan lazat dengan maksiat itu.Jika hati berbelah bahagi antara hendak melakukan maksiat dan takut kepada ALLAH ,nescaya dia dia berada di persimpangan jalan,akhirnya mungkin dia tidak akan melakukan maksiat itu.
Apabila seseorang itu sudah sebati dengan kejahatan,maka cara bertaubatnya juga memerlukan kesebatian diri dan jiwa dalam menyesali kesalahan yang dilakukan,serta menyatukan jiwa dengan ketaatan,sehingga tidak lagi berbelag bagi antara ketaatan dan kejahatan.
Sebagaimana kita memasak timah sehingga lebur,selepas itu di tuang ke dalam acuan,maka demikian juga acuan ketaatan itu yang menjadikan seseorang itu sebati dalam jiwanya,dengan demikian dia tidak mungkin menoleh lagi kepada kemaksiatan.
Selain itu,segala maksiat itu lazimnya adalah perkara yang disenangi oleh nafsu,sehingga terasa manis dan lazatnya maksiat itu.Orang sanggup mengorbankan harta benda dan maruah untuk melakukan berbagai-bagai maksiat yang sangat manis untuk dikecapi nafsu.Maka tidak dapat tidak apabila hendak bertaubat,dia terpaksa menerima hakikat bahawa ketaatan itu sgt pahit,dia terpaksa menghabiskan kesenangan hidup semata-mata kerana hendak menebus kesalahan yang lalu,dan semuanya adalah pahit.
Tetapi yang pahit itu merupakan ubat,maka sekali-kali dia tidak akan memuntahkannya,sebaliknya dia mesti menelannya kerana dia sedar bahawa ibarat orang sakit..berharap bahawa kepahitan itu akan dapat menyembuhkan dirinya dari segala dosa
Kata-kata hukama’”Jalan menuju ke neraka itu dikelilingi dengan kemanisan dan kelazatan,kerana semuanya adalah sesuai dengan runtutan nafsu.Sebaliknya jalan ke syurga itu dikelilingi oleh onak duri kepahitan”..Sifat taat itu amat sulit untuk dicapai untuk dicapai,dia terpaksa menempuh segala pahit getir,namun terpaksa ditelan kerana dia sudah berazam untuk sembuh dari dosanya.
Dan akhirnya manusia terpaksa menangisi segala keterlanjuran yang laluu,setiap ketika dia terpaksa menitiskan air mata sebagai balasan kepada gelak ketawa mereka ketika mereka melakukan maksiat dan dosa dahulu.Memang begitulah adatnya,apabila sudah terlalu byk ketawa,akhirnya dia terpaksa menangis kerana penyesalan.
Sesungguhnya manusia seharusnya tidak ada masa untuk ketawa,kerana ketawa iu adalah bagi mereka yang tidak mempunyai sebarang masalah,sebab itu mereka sentiasa gembira.Manusia sebenarnya mempunyai permasalahan yang sukar umtuk diselesaikan,lantaran itu mereka tidak ada waktu untuk ketawa.
Justeru itu,meskipun Rasulullah s a w pernah ketawa apabila gembira,tetapi sekadar kelihatan gigi hadapannya sahaja,jauh sekali dari ketawa berdekah-dekah.Nabi pernah menyatakan kehairanan apabila melihat orang yang gelak ketawa,sehingga dia bertanya kepada orang itu,adakah dia sudah tahu bahawa dia pasti menjadi ahli syurga?Jika tidak,mengapa dia harus ketawa,sepatutnya seseorang itu menangis kerana dia belum tahu bagaimana nasibnya di akhirat kelak..
Orang yang boleh ketawa berdekah-dekah sedangkan dia tidak tahu nasib dirinya di akhirat kelak,tidak ubah seperti haiwan ternakan yang terus menguyah rumput walaupun tukang sembelih sudah menunggu di sisinya bersama-sama pisau yang tajam.
SUNAT PUASA HARI TASU'A & 'ASYURA
Tuesday, December 14, 2010 2:57 PM
Bersempena dengan kedatangan hari sembilan (tasu’a) dan sepuluh (‘asyura) Muharram ini bersamaan 15 & 16 Disember, kita semua disunatkan berpuasa pada hari-hari berkenaan. Sekurang-kurangnya berpuasalah pada sepuluh Muharram. Ini seperti yang ditunjukkan dalam hadis-hadis berikut;
عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ
Daripada Ibn Abbas r.a.:“Bahawa Rasulullah s.a.w. berpuasa pada hari ‘asyura dan memerintahkan agar berpuasa padanya”. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dalam sahih mereka).
عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.
Daripada Abu Qatadah r.a. : bahawa Rasulullah s.a.w ditanya tentang puasa hari ‘asyura. Baginda menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (Riwayat Muslim)
وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.
Daripada Ibn Abbas r.a. beliau berkata: “Rasulullah s.a.w bersabda, “Sekiranya aku masih hidup sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (Riwayat. Muslim).
ku bawa rindu itu pergi ^$^$^$
Nura memerhatikan jam di dinding, sudah dekat pukul 12.00 malam, argh ... dia lambat lagi malam ini. Akhirnya sofa itu jugak menjadi katilnya malam ini.
2.00 pagi. "Nura, Nura bangun sayang". Hilmi mengejutkan isterinya.
"Eh! abang dah balik, maaf Nura tertidur, abang nak makan?" tanya Nura. "
"Tak per lah abang dah makan tadi, Jomlah kita tidur di atas". jawapan yang cukup mengecewakan Nura.
"Arrggh rindunya Nura pada abang, rindu nak makan semeja dengan abang, abang tak nak tengok ker apa Nura masak hari ni, ikan cencaru sumbat kesukaan abang," luah Nura dalam hati.
"Abang naiklah dulu Nura nak simpan lauk dalam peti ais dulu". pinta Nura sambil menuju ke dapur. Gugur air mata isterinya menyimpan kembali lauk-lauk yang langsung tidak dijamah suami tercinta kecil hatinya sedih perasaannya. Nura ambil dua keping roti sapu jem dan makan untuk alas perut kerana dia sememangnya lapar, tapi selera makannya terbunuh dengan situasi itu. Nura menghirup milo panas sedalam-dalamnya dan akhirnya masuk bilik air gosok gigi dan terus menuju ke bilik tidur.
Sekali lagi terguris hati seorang isteri apabila melihatkan suaminya telah terlelap.
"Sampai hati abang tidur dulu tanpa ucapkan selamat malam tanpa kucupan mesra, tanpa belaian dan tanpa kata-kata kasih abang pada Nura", bisik hati kecilnya. Aargghh rindunya Nura pada abang.
" Nura rindu nak peluk abang, Nura nak kucup abang, Nura rindu abang".
Selesai solat subuh Nura panjatkan doa semoga dia sentiasa beroleh bahagia, dipanjangkan jodohnya dengan Hilmi tercinta, diberi kesihatan yang baik dan paling panjang dan khusyuk dia berdoa semoga Allah berikan kekuatan untuk menempuh segala badai. Selesai menjalankan amanat itu, Nura kejutkan Hilmi, manakala dia bingkas menuju ke dapur menyediakan sarapan buat suami tersayang. Nura keluarkan ayam dan sayur dan mula menumis bawang untuk menggoreng mee.
"Assalamualaikum", sapa Hilmi yang sudah siap berpakaian untuk ke pejabat. "Waalaikumsalam, sayang". Nura cuba bermanja sambil menambah, "abang nak kopi atau teh?" Nura tetap kecewa apabila Hilmi hanya meminta air sejuk sahaja, dia ada 'presentation' dan hendak cepat, mee goreng pun hanya dijamah sekadar menjaga hati Nura dan tergesa-gesa keluar dari rumah. Nura menghantar pemergian suami hingga ke muka pintu "Abang, Nura belum cium tangan abang, abang belum kucup dahi Nura", kata Nura selepas kereta itu meluncur pergi. Arrghh rindunya Nura pada abang.
-----------------------------------------
"Mi, semalam pukul berapa kau balik?" tanya Zikri.
"Dekat pukul 2.00 pagi". Jawab Hilmi acuh tak acuh.
"Wow dasyat kau, kalah kami yang bujang ni, woi semalam malam Jumaatler, kesian bini kau". Zikri bergurau nakal.
"Apa nak buat, lepas aku siapkan plan tu, aku ikut Saiful dan Nazim pergi makan dan borak-borak, sedar-sedar dah pukul 2.00", aku balik pun bini aku dah tidur. "Balas Hilmi.
"Sorrylah aku tanya, sejak akhir-akhir kau sengaja jer cari alasan balik lewat, hujung minggu pun kau sibuk ajak member lain pergi fishing, kau ada masalah dengan Nura ke?". Zikri cuba bertanya sahabat yang cukup dikenali sejak dari sekolah menengah, sampai ke universiti malah sekarang bekerja sebumbung.
"Entahlah Zek, aku tak tahu kenapa sejak akhir-akhir aku rasa malas nak balik rumah, bukan aku bencikan Nura, kami tak bergaduh tapi entahlah". terang Hilmi.
"Well, aku rasa aku perlu dengar penjelasan lebar kau, aku nak dengar semuanya, tapi bukan sekarang. Lepas kerja jom kita keluar ok?". Usul Zikri.
"Ok." Ringkas jawapan Hilmi sambil menyambung kembali merenung plan bangunan yang sedang direkanya.
-----------------------------------
Nura membuka kembali album kenangan itu. Tersenyum dia bila melihatkan saat manis dia diijab kabulkan dengan Hilmi. Majlis ringkas, hanya dihadiri sanak saudara dan rakan terdekat. Maklumlah yatim piatu, kenduri ini pun mujur sangat kakak sulungnya sudi mengendalikan. Saat-saat sebegini Nura teringat kembali alangkah indahnya sekiranya ibunya masih ada, akan diluahkan segalanya pada ibu tetapi sekarang, dia tidak punya sesiapa. Nura menangis sepuas hatinya. 5 tahun menjadi suri Hilmi, bukan satu tempoh yang pendek. Nura bahagia sangat dengan Hilmi, cuma sejak akhir-akhir ini kebahagiaan itu makin menjauh. Nura sedar perubahan itu, dan dia tidak salahkan Hilmi. Makin laju air matanya mengalir.
"Abang sanggup menerima Nura, abang tidak menyesal?". tanya Nura 5 tahun yang lepas.
"Abang cintakan Nura setulus hati abang, abang sanggup dan Insya-Allah abang akan bahagiakan Nura dan akan abang tumpahkan sepenuh kasih sayang buat Nura,". Janji Hilmi.
"Walaupun kita tidak berpeluang menimang zuriat sendiri?". Tanya Nura lagi.
"Syyy... doktor pun manusia macam kita, yang menentukan Allah, Insya-Allah abang yakin sangat kita akan ada zuriat sendiri", Hilmi meyakinkan Nura.
Nura masih ingat saat itu, apabila dia menerangkan pada Hilmi dia mungkin tidak boleh mengandung kerana sebahagian rahimnya telah dibuang kerana ada ketumbuhan. Harapan untuk mengandung hanya 10-20 peratus sahaja. Tapi Hilmi yakin Nura mampu memberikannya zuriat. Tapi, itu suatu masa dahulu, selepas 5 tahun, Nura tidak salahkan Hilmi sekiranya dia sudah mengalah dan terkilan kerana Nura masih belum mampu memberikannya zuriat. Walaupun Nura sudah selesai menjalani pembedahan untuk membetulkan kembali kedudukan rahimnya dan mencuba pelbagai kaedah moden dan tradisional. Arrghh rindunya Nura pada abang.
-------------------------------------
"Aku tak tahu macam mana aku nak luahkan Zek, sebenarnya aku tidak salahkan Nura, dia tidak minta semuanya berlaku, isteri mana yang tidak mahu mengandungkan anak dari benih suaminya yang halal, tapi... " ayat Hilmi terhenti disitu.
"Tetapi kenapa? Kau dah bosan? Kau dah give up?" Celah Zikri.
"Bukan macam tu, aku kesian dengan dia sebenarnya, duduk rumah saja, sunyi, tapi sejak akhir-akhir ini perasaan aku jadi tak tentu arah, aku rasa simpati pada dia, tetapi kadang-kadang perasaan aku bertukar sebaliknya", terang Hilmi.
"Maksudnya kau menyesal dan menyalahkan dia?" tingkas Zikri.
"Entahlah Zek, aku tak kata aku menyesal, sebab aku yang pilih dia, aku tahu perkara ni akan berlaku, cuma mungkin aku terlalu berharap, dan akhirnya aku kecewa sendiri. Dan aku tidak mahu menyalahkan Nura sebab itulah aku cuba mengelakkan kebosanan ini, dan elakkan bersama-samanya macam dulu kerana aku akan simpati aku pada dia akan bertukar menjadi perbalahan " Jelas Hilmi.
"Dan kau puas hati dengan melarikan diri dari dia? kata Zikri tidak berpuas hati dan menambah, "apa kata korang ambil saja anak angkat?"
"Anak angkat tak sama dengan zuriat sendiri Zek, kau tak faham. Aku harapkan zuriat sendiri dan dalam masa yang sama aku tahu dia tak mampu, ibu dan kakak-kakak aku pun dah bising, mereka suruh aku kawin lagi, tapi aku tak sanggup melukakan hati dia Zek. Aku tak sanggup". Ujar Hilmi.
--------------------------------------
Nura masih menanti, selalunya hujung minggu mereka akan terisi dengan pergi berjalan-jalan, membeli belah, atau setidak-tidaknya mengunjungi rumah saudara mara atau menjenguk orang tua Hilmi di kampung. Kini dah hampir 5 bulan mereka tidak menjenguk mertua dia. Dia sayangkan mertua dan iparnya yang lain macam saudara sendiri. Dia tidak punya ibu, maka dengan itu seluruh kasih sayang seorang anak dicurahkan kepada kedua mertuanya.
Sebolehnya setiap kali menjenguk mertua atau kakak-kakak iparnya dia akan bawakan buah tangan untuk mereka, biasanya dia akan menjahit baju untuk mereka, itulah yang selalu dibuat untuk menggembirakan hati mertuanya, maklumlah dia punya masa yang cukup banyak untuk menjahit. Selalunya juga dia akan buatkan kek atau biskut untuk dibawa pulang ke kampung suami tersayangnya. Dan mereka akan gembira sekali untuk pulang ke kampung, tapi kini... aarghh rindunya Nura pada abang.
Nura tahu Hilmi pergi memancing sebab dia bawa bersama segala peralatan memancing, dan hari ini sekali lagi Nura menjadi penghuni setia rumah ini bersama setianya kasihnya kepada Hilmi. Nura masih tidak menaruh syak pada Hilmi, dia masih cuba memasak sesuatu yang istemewa untuk Hilmi bila dia pulang malam nanti, tapi Nura takut dia kecewa lagi. Arghh tak apalah,
demi suami tercinta. Aaarggh Rindunya Nura pada abang.
--------------------------------------
"So you dah tahu I dah kawin, tapi you masih sudi berkawan dengan I kenapa? Adakah kerana simpati atau ikhlas?" tanya Hilmi pada Zati yang dikenali dua minggu lepas semasa mengikut teman-teman pergi memancing. Sejak itu Zati menjadi teman makan tengaharinya, malah kadang teman makan malamnya.
"I ikhlas Hilmi, dan I tak kisah kalau jadi yang kedua, I dah mula sayangkan you". Zati berterus terang. Lega hati Hilmi, tapi Nura?
--------------------------------------
"Abang,Nura tak berapa sihatlah bang rasa macam nak demam saja," adu Nura pagi tu, sebelum Hilmi ke pejabat.
"Ye ker? Ambil duit ni, nanti Nura call teksi dan pergilah klinik ye, abang tak boleh hantar Nura ni." jawapan Hilmi yang betul-betul membuatkan Nura mengalirkan air mata. Tidak seperti dulu-dulu, kalau Nura sakit demam Hilmi sanggup mengambil cuti, bersama-sama menemani Nura. Arrgg rindunya Nura pada abang. Disebabkan Nura terlalu sedih dan kecewa, dia mengambil keputusan tidak mahu ke klinik selepas makan dua bijik panadol, dia terus berbaring.
Sehingga ke petang, badan dia semakin panas dan kadang terasa amat sejuk, kepalanya berdenyut-denyut. Nura menangis lagi.
Malam tu, seperti biasa Hilmi pulang lewat setelah menemani Zati ke majlis harijadi kawannya. Nura masih setia menunggu dan dia rasa kali ini dia ingin luahkan segala perasaan rindu dan sayangnya pada Hilmi. Tak sanggup lagi dia menanggung rindu yang amat sarat ini, rindu pada manusia yang ada di depan
mata setiap hari. Aargh rindunya Nura pada abang.
Apabila Hilmi selesai mandi dan tukar pakaian, Nura bersedia untuk membuka mulut, ingin diluahkan segalanya rasa rindu itu, dia rasa sakit demam yang dia tanggung sekarang ini akibat dari memendam rasa rindu yang amat sarat.
"Abang, Nura nak cakap sikit boleh?" Nura memohon keizinan seperti kelazimannya.
"Nura, dah lewat sangat esok sajalah, abang letih," bantah Hilmi.
"Tapi esok pun abang sibuk jugak, abang tak ada masa, dan abang akan balik lambat, Nura tak berpeluang abang". ujar Nura dengan lembut.
"Eh..dah pandai menjawab,"perli Hilmi.
Meleleh air mata Nura, dan Hilmi rasa bersalah dan bertanya apa yang Nura nak bincangkan.
"Kenapa abang terlalu dingin dengan Nura sejak akhir-akhir ni? Tanya Nura.
"Nura, abang sibuk kerja cari duit, dengan duit tu, dapatlah kita bayar duit rumah, duit kereta, belanja rumah dan sebagainya faham?" Hilmi beralasan.
Nura agak terkejut, selama ini Hilmi tak pernah bercakap kasar dengan dia, dan dia terus bertanya, "dulu Abang tak macam ni, masih ada masa untuk Nura, tapi sekarang?" Ujar Nura.
"Sudahlah Nura abang dah bosan, pening, jangan tambahkan perkara yang menyesakkan dada", bantah Hilmi lagi.
"Sampai hati abang, abaikan Nura, Nura sedar siapa Nura, Nura tak mampu berikan zuriat untuk abang dan abang bosan kerana rumah kita kosong, tiada suara tangis anak-anak bukan? " dan Nura terus bercakap dengan sedu sedan.
"Sudahlah Nura abang dah bosan, jangan cakap pasal tu lagi abang tak suka. Bosan betul... "
Pagi tu, Hilmi keluar rumah tanpa sarapan, tanpa bertemu Nura dan tanpa suara pun. Nura makin rindu pada suaminya, demamnya pula kian menjadi-jadi.
Malam tu Hilmi terus tidak pulang ke rumah, Nura menjadi risau, telefon bimbit dimatikan, Nura risau, dia tahu dia bersalah, akan dia memohon ampun dan maaf dari Hilmi bila dia kembali. Nura masih menanti, namun hanya hari ketiga baru Hilmi muncul dan Nura terus memohon ampun dan maaf dan hulurkan tangan tetapi Hilmi hanya hulurkan acuh tak acuh sahaja. Nura kecil hati dan meminta Hilmi pulang malam nanti kerana dia ingin makan bersama Hilmi. Hilmi sekadar mengangguk.
Tetapi malam tu Nura kecewa lagi. Hilmi pulang lewat malam. demam Nura pulak makin teruk, dan esoknya tanpa ditemani Hilmi dia ke klinik, sebab sudah tidak tahan lagi.
-------------------------------------
Abang pulanglah abang, pulanglah Nura ingin beritahu perkhabaran ini, pulang abang, doa Nura. Nura kecewa tapi masih menanti, bila masuk hari ketiga dia sudah tidak sabar lagi, dia menelefon ke pejabat. Dan telefon itu disambut oleh Zikri.
"Syukurlah Nura kau telefon aku, ada perkara aku nak cakap ni, boleh aku jumpa kau? tanya Zikri.
"Eh tak bolehlah aku ni kan isteri orang, mana boleh jumpa kau tanpa izin suami aku, berdosa tau", tolak Nura.
Pilunya hati Zikri mendengar pengakuan Nura itu. Setianya kau perempuan, bisik hatinya.
"Oklah kalau macam tu, aku pergi rumah kau, aku pergi dengan mak aku boleh?" pinta Zikri.
"Ok, kalau macam tu tak apalah, aku pun dah lama tak jumpa mak kau, last sekali masa konvo kita 6 tahun lepas kan?" setuju Nura.
-------------------------------------
"Eh kenapa pucat semacam ni? tegur Mak Siti. Nura hanya tersenyum penuh makna, dan membisik, "Allah makbulkan doa saya mak cik". Pilu hati Mak Siti dan betapa dia sedar betapa Allah itu Maha Mengetahui apa yang Dia lakukan.
Segera Mak Siti mendapat Zikri di ruang tamu dan khabarkan berita itu. Zikri serba salah.
"Nura, aku anggap kau macam saudara aku, aku tak tahu macam mana nak mulakan, aku harap kau tabah dan tenang, sebenarnya Hilmi dalam proses untuk berkahwin lagi satu, dan aku sayangkan korang macam saudara sendiri, dan aku tak sanggup rumah tangga korang musnah macam ni, kau tanyalah dengan Hilmi dan bincanglah, cubalah selamatkan rumah tangga korang." terang Zikri.
Nura menangis semahunya di bahu Mak Siti, rasa hampir luruh jantung mendengarkan penjelasan itu. Patutlah selalu tidak balik rumah. Berita gembira yang diterima pagi tadi, sudah tidak bermakna. Nura menantikan Hilmi sehingga ke pagi, namun dia masih gagal.
Dua hari kemudian Hilmi pulang dan sibuk mengambil beberapa pakaian penting, dan masa ini Nura bertekad untuk bertanya.
"Ya, betul apa yang Nura dengar tu, dan kami akan langsungkan jugak, dan abang takkan lepaskan Nura, itu janji abang, mak ayah pun dah tahu dan mereka tak kisah asalkan abang tidak lepaskan Nura, kerana mereka juga sayangkan Nura, dan Nura kena faham abang inginkan zuriat sendiri, walau apa pun persiapan sedang dibuat, abang janji takkan abaikan Nura." Janji
Hilmi.
Nura sayu mendengar, dan bagaikan kelu lidahnya untuk berkata-kata. Dan segala perkhabaran gembira itu terbunuh menjadi khabar duka. Nura terlalu kecewa.
-------------------------------------
Hilmi masih menanti di luar, rasa amat bersalah bersarang di kepala, sejak dihubungi Zikri, dia bergegas ke hospital apabila dimaklumkan Nura pengsan dan mengalami pendarahan. Doktor dan jururawat keluar masuk. Dia masih resah.
"Insya-Allah En. Hilmi, dua-dua selamat", terang doktor pada Hilmi.
"Dua-dua apa maksud doktor? tanya Hilmi.
"Dua-dua ibu dan baby dalam kandungan tu, tapi dia kena banyak berehat kerana rahimnya tidak begitu kukuh, saya takut banyak bergerak akan menyebabkan berlaku keguguran, tapi kami dah mulakan injection untuk kuatkan paru-paru baby dan jahitkan rahim dia dan bersedia untuk early delivery dalam kes macam ni," terang doktor.
"Ya Allah Nura mengandung, Ya Allah berdosanya aku pada Nura, kesal Hilmi. Malu rasanya untuk menatap muka Nura.
"Kenapa Nura tak bagi tahu abang yang Nura mengandung? kesal Hilmi.
"Nura memang nak bagitau abang tapi, bila abang cakap abang sudah bertunang dan akan berkahwin dengan perempuan Nura tak sampai hati bang, Nura tak sanggup abang malu dan keluarga abang malu." Jelas Nura.
"Nura sebenarnya, abang belum bertunang dengan budak tu, abang cuma sekadar berkawan sahaja. Belum pernah abang bincangkan soal kawin lagi, dan abang tak sanggup nak teruskan hubungan tu lagi kerana abang akan jadi ayah tidak lama lagi." janji Hilmi.
Kesal kerana mengabaikan Nura yang mengandung itu, membuatkan Nura risau dan akhirnya pitam di halaman rumah, mujurlah ada jiran nampak dan membawa ke hospital, dan mujur jugak Nura pengsan di halaman, dapat dilihat orang.
--------------------------------------
"Mama, kenapa mama buat tu, biarlah mak yang buat," marah Hilmi bila melihatkan Nura cuba menyapu lantai. Sejak keluar hospital hari tu, mertua dia meminta supaya Nura tinggal saja di rumah sehingga bersalin kerana dia memang tidak dibenarkan doktor melakukan sebarang kerja, bimbang keguguran kerana rahimnya tidak kuat.
"Ala Papa ni, biarlah mama buat sikit sajalah." balas Nura. Itulah panggilan manja mereka sekarang ni.
Dengan pengawasan rapi doktor, yang setiap dua tiga sekali akan melakukan pemeriksaan, dan bila usia kandungan mencecah 6 bulan, doktor mengarahkan supaya Nura hanya berehat di hospital, supaya senang mengawasi Nura dan andainya apa-apa berlaku Nura akan terus dibedah untuk menyelamatkan nyawanya dan bayi yang dikandung. Setiap hari Nura akan dilawati oleh Hilmi. Nura amat bahagia, ternyata bayi yang dikandung membawa sinar, amat berharga kehadiran dia nanti, sebab itulah Nura sanggup tinggal di hospital, sanggup menelan berjenis ubat, sanggup disuntik apa saja semuanya demi bayi itu.
Kandungan sudah di penghujung 7 bulan, Nura amat bahagia merasakan gerakan-gerakan manja bayi yang dikandungnya. Setiap tendangan bayi dirasakan amat membahagiakan. Doktor makin teliti menjaga Nura, kerana bimbang berlaku pertumpahan darah, dan akhirnya apa yang dibimbangi para doktor menjadi nyata apabila Nura mengalami pertumpahan darah yang serius,
lantas terus dia ditolak ke dalam bilik bedah dalam masa beberapa minit sahaja. Hilmi tiba bersama ibu dan ayahnya, dia panik sekali, namun cuba ditenangkan oleh kedua orang tuanya. Hampir 1 jam berlalu, apakah khabarnya Nura di dalam sana. Hilmi makin risau, setengah jam kemudian doktor keluar.
Hilmi meluru "doktor bagaimana isteri saya ?", Hilmi terus bertanya.
"Sabar, kami telah cuba sedaya upaya, tahniah anak encik selamat, encik dapat anak perempuan, seberat 2.1 kilogram, dan kini kami cuba sedaya upaya untuk selamatkan Puan Nura Ain." terang doktor.
"Apa maksud doktor? Tanya Hilmi yang sudah tidak sabar.
"Begini, dia kehilangan banyak darah, kami cuba sedaya upaya menggantikan darahnya yang keluar itu, dan masih berusaha, namun rahimnya terus berdarah dan kami mohon kebenaran untuk membuang terus rahimnya demi menyelamatkan nyawanya." jelas doktor.
"Buatlah doktor, saya izinkan asalkan isteri saya selamat."
-------------------------------------
"Ermmm... lekanya dia sampai terlena." tegur Hilmi sambil membelai dan mengusap kepala Nur Syuhadah yang terlena akibat kenyang selepas menyusu dengan Nura. Nura hanya tersenyum. Hari ni genap seminggu usia Syuhadah. Nura Ain masih lemah akibat kehilangan banyak darah. Namun dikuatkan semangat demi Nur Syuhadah buah hatinya. Dia mencium sepenuh kasih sayang pipi comel anaknya itu. Dia membelai sayu wajah comel itu. Entah kenapa dia rasa seperti terlalu sayu hari itu, hatinya terlalu sepi, semalam dia mimpikan arwah ibunya, datang menjenguk dia dan Syuhadah, tanpa suara, ibunya hanya tersenyum. Dan akhirnya berlalu begitu sahaja. Hari ini Nura menjadi seorang perindu, dia rindukan ibunya, dan diceritakan perkara itu pada Hilmi.
"Mungkin mak Nura datang tengok cucu dia, dan dia amat gembira". pujuk Hilmi menenangkan Nura.
"Abang... tolong Nura bang!!" laung Nura dari bilik air.
"Ya Allah Nura kenapa ni? Hilmi ketakutan. "Mak... tolong mak... makkkkkkkkkkk" Hilmi menjerit memanggil emaknya didapur.
"Cepat, bawak pergi hospital, cepat Hilmi" perintah Mak Zaharah.
---------------------------------------
"Maaf dia tidak dapat kami selamatkan, terlalu banyak darah yang keluar, dan kami tak sempat berbuat apa-apa, dia terlalu lemah dan akhirnya dia 'dijemputNya", terang doktor. Terduduk Hilmi mendengarkan hal itu.
Jenazah selamat dikebumikan. Syuhadah seakan mengerti yang dia sudah tidak akan menikmati titisan-titisan susu Nura Ain lagi. Syuhadah menangis seolah-olah ingin memberitahu dunia yang dia perlukan seorang ibu, seorang ibu yang bersusah payah, bersabung nyawa demi untuk melihat kelahirannya.
Demi membahagiakan papanya, demi membahagiakan neneknya. Syuhadah terus menangis seolah-olah tidak rela dia dipisahkan dengan ibunya hanya bersamanya untuk sekejap cuma. Semua yang hadir kelihatan mengesat mata, tidak sanggup mendengar tangisan bayi kecil itu. Semua terpaku dan terharu, Hilmi mendukung Syuhadah dan memujuk bayi kecil itu, akhirnya dia
terlelap didakapan papanya.
---------------------------------------
Abang yang Nura rindui,
Abang, maafkan Nura kerana selama ini tidak mampu menjadi isteri yang terbaik buat abang. Saat abang membaca surat ini, mungkin Nura sudah jauh meninggalkan abang, Nura tak harapkan Nura akan selamat melahirkan anak ini, tapi Nura harap bayi akan selamat walau apa yang terjadi pada Nura. Itu harapan Nura bang. Nura masih ingat, rumah tangga kita hampir runtuh kerana Nura tidak mampu memberikan zuriat buat abang, tapi bang, kali ni doa Nura dimakbulkan, dan untuk itu, biarlah Nura menanggung segala kepayahan demi zuriat ini bang.
Saat Nura menulis surat ini, Nura masih lagi menjadi penghuni setiap katil hospital ini. Baby kita makin nakal bergerak bang, tapi Nura bahagia merasa setiap tendangan dia abang, Nura bahagia, cukuplah saat manis ini Nura dan dia. Nura rasakan setiap pergerakannya amat bermakna, dan andainya ditakdirkan Nura hanya ditakdirkan untuk bahagia bersama dia hanya dalam
kandungan sahaja Nura redha bang. Siapalah Nura untuk menolak ketentuanNya. Nura tak mampu abang.
Cukup bersyukur kerana sekurang-kurangnya Allah makbulkan doa Nura untuk mengandungkan zuriat dari benih abang yang Nura cintai dan kasihi selamanya. Nura redha sekiranya selepas ini walau apa terjadi, Nura redha, kerana Allah telah memberikan Nura sesuatu yang cukup istemewa, dan andainya maut memisahkan kita Nura harap abang redha sebagaimana Nura redha.
Syukurlah sekurang-kurang Allah berikan nikmat kepada Nura untuk merasai nikmatnya menjadi seorang ibu walau cuma seketika.
Andai apa yang Nura takutkan terjadi, dan bayi ini dapat diselamatkan Nura harap abang akan jaganya dengan penuh kasih sayang. Nura harap abang jangan biarkan hidupnya tanpa seorang ibu. Cuma satu Nura harapkan dia akan mendapat seorang ibu yang mampu menjaga seorang anak yatim dengan baik dan menjaganya dengan penuh kasih sayang. Seumur hayat Nura, Nura tak pernah meminta sesuatu dari abang, dan kini inilah permintaan Nura, janjilah anak ini akan mendapat seorang ibu yang penyayang.
Abang yang Nura rindui...
Dulu sewaktu rumah tangga kita dilandai badai, Nura ingin sangat ucapkan kata-kata ini pada abang, tapi Nura tak berkesempatan, dan walaupun kini Nura tiada lagi, tapi Nura nak abang tahu yang...
Nura rindukan abang... ... Nura rindu sangat dengan abang... ..rindu bang... rindu sangat... .
Sekian,
pengarang nabila bt zainon
2.00 pagi. "Nura, Nura bangun sayang". Hilmi mengejutkan isterinya.
"Eh! abang dah balik, maaf Nura tertidur, abang nak makan?" tanya Nura. "
"Tak per lah abang dah makan tadi, Jomlah kita tidur di atas". jawapan yang cukup mengecewakan Nura.
"Arrggh rindunya Nura pada abang, rindu nak makan semeja dengan abang, abang tak nak tengok ker apa Nura masak hari ni, ikan cencaru sumbat kesukaan abang," luah Nura dalam hati.
"Abang naiklah dulu Nura nak simpan lauk dalam peti ais dulu". pinta Nura sambil menuju ke dapur. Gugur air mata isterinya menyimpan kembali lauk-lauk yang langsung tidak dijamah suami tercinta kecil hatinya sedih perasaannya. Nura ambil dua keping roti sapu jem dan makan untuk alas perut kerana dia sememangnya lapar, tapi selera makannya terbunuh dengan situasi itu. Nura menghirup milo panas sedalam-dalamnya dan akhirnya masuk bilik air gosok gigi dan terus menuju ke bilik tidur.
Sekali lagi terguris hati seorang isteri apabila melihatkan suaminya telah terlelap.
"Sampai hati abang tidur dulu tanpa ucapkan selamat malam tanpa kucupan mesra, tanpa belaian dan tanpa kata-kata kasih abang pada Nura", bisik hati kecilnya. Aargghh rindunya Nura pada abang.
" Nura rindu nak peluk abang, Nura nak kucup abang, Nura rindu abang".
Selesai solat subuh Nura panjatkan doa semoga dia sentiasa beroleh bahagia, dipanjangkan jodohnya dengan Hilmi tercinta, diberi kesihatan yang baik dan paling panjang dan khusyuk dia berdoa semoga Allah berikan kekuatan untuk menempuh segala badai. Selesai menjalankan amanat itu, Nura kejutkan Hilmi, manakala dia bingkas menuju ke dapur menyediakan sarapan buat suami tersayang. Nura keluarkan ayam dan sayur dan mula menumis bawang untuk menggoreng mee.
"Assalamualaikum", sapa Hilmi yang sudah siap berpakaian untuk ke pejabat. "Waalaikumsalam, sayang". Nura cuba bermanja sambil menambah, "abang nak kopi atau teh?" Nura tetap kecewa apabila Hilmi hanya meminta air sejuk sahaja, dia ada 'presentation' dan hendak cepat, mee goreng pun hanya dijamah sekadar menjaga hati Nura dan tergesa-gesa keluar dari rumah. Nura menghantar pemergian suami hingga ke muka pintu "Abang, Nura belum cium tangan abang, abang belum kucup dahi Nura", kata Nura selepas kereta itu meluncur pergi. Arrghh rindunya Nura pada abang.
-----------------------------------------
"Mi, semalam pukul berapa kau balik?" tanya Zikri.
"Dekat pukul 2.00 pagi". Jawab Hilmi acuh tak acuh.
"Wow dasyat kau, kalah kami yang bujang ni, woi semalam malam Jumaatler, kesian bini kau". Zikri bergurau nakal.
"Apa nak buat, lepas aku siapkan plan tu, aku ikut Saiful dan Nazim pergi makan dan borak-borak, sedar-sedar dah pukul 2.00", aku balik pun bini aku dah tidur. "Balas Hilmi.
"Sorrylah aku tanya, sejak akhir-akhir kau sengaja jer cari alasan balik lewat, hujung minggu pun kau sibuk ajak member lain pergi fishing, kau ada masalah dengan Nura ke?". Zikri cuba bertanya sahabat yang cukup dikenali sejak dari sekolah menengah, sampai ke universiti malah sekarang bekerja sebumbung.
"Entahlah Zek, aku tak tahu kenapa sejak akhir-akhir aku rasa malas nak balik rumah, bukan aku bencikan Nura, kami tak bergaduh tapi entahlah". terang Hilmi.
"Well, aku rasa aku perlu dengar penjelasan lebar kau, aku nak dengar semuanya, tapi bukan sekarang. Lepas kerja jom kita keluar ok?". Usul Zikri.
"Ok." Ringkas jawapan Hilmi sambil menyambung kembali merenung plan bangunan yang sedang direkanya.
-----------------------------------
Nura membuka kembali album kenangan itu. Tersenyum dia bila melihatkan saat manis dia diijab kabulkan dengan Hilmi. Majlis ringkas, hanya dihadiri sanak saudara dan rakan terdekat. Maklumlah yatim piatu, kenduri ini pun mujur sangat kakak sulungnya sudi mengendalikan. Saat-saat sebegini Nura teringat kembali alangkah indahnya sekiranya ibunya masih ada, akan diluahkan segalanya pada ibu tetapi sekarang, dia tidak punya sesiapa. Nura menangis sepuas hatinya. 5 tahun menjadi suri Hilmi, bukan satu tempoh yang pendek. Nura bahagia sangat dengan Hilmi, cuma sejak akhir-akhir ini kebahagiaan itu makin menjauh. Nura sedar perubahan itu, dan dia tidak salahkan Hilmi. Makin laju air matanya mengalir.
"Abang sanggup menerima Nura, abang tidak menyesal?". tanya Nura 5 tahun yang lepas.
"Abang cintakan Nura setulus hati abang, abang sanggup dan Insya-Allah abang akan bahagiakan Nura dan akan abang tumpahkan sepenuh kasih sayang buat Nura,". Janji Hilmi.
"Walaupun kita tidak berpeluang menimang zuriat sendiri?". Tanya Nura lagi.
"Syyy... doktor pun manusia macam kita, yang menentukan Allah, Insya-Allah abang yakin sangat kita akan ada zuriat sendiri", Hilmi meyakinkan Nura.
Nura masih ingat saat itu, apabila dia menerangkan pada Hilmi dia mungkin tidak boleh mengandung kerana sebahagian rahimnya telah dibuang kerana ada ketumbuhan. Harapan untuk mengandung hanya 10-20 peratus sahaja. Tapi Hilmi yakin Nura mampu memberikannya zuriat. Tapi, itu suatu masa dahulu, selepas 5 tahun, Nura tidak salahkan Hilmi sekiranya dia sudah mengalah dan terkilan kerana Nura masih belum mampu memberikannya zuriat. Walaupun Nura sudah selesai menjalani pembedahan untuk membetulkan kembali kedudukan rahimnya dan mencuba pelbagai kaedah moden dan tradisional. Arrghh rindunya Nura pada abang.
-------------------------------------
"Aku tak tahu macam mana aku nak luahkan Zek, sebenarnya aku tidak salahkan Nura, dia tidak minta semuanya berlaku, isteri mana yang tidak mahu mengandungkan anak dari benih suaminya yang halal, tapi... " ayat Hilmi terhenti disitu.
"Tetapi kenapa? Kau dah bosan? Kau dah give up?" Celah Zikri.
"Bukan macam tu, aku kesian dengan dia sebenarnya, duduk rumah saja, sunyi, tapi sejak akhir-akhir ini perasaan aku jadi tak tentu arah, aku rasa simpati pada dia, tetapi kadang-kadang perasaan aku bertukar sebaliknya", terang Hilmi.
"Maksudnya kau menyesal dan menyalahkan dia?" tingkas Zikri.
"Entahlah Zek, aku tak kata aku menyesal, sebab aku yang pilih dia, aku tahu perkara ni akan berlaku, cuma mungkin aku terlalu berharap, dan akhirnya aku kecewa sendiri. Dan aku tidak mahu menyalahkan Nura sebab itulah aku cuba mengelakkan kebosanan ini, dan elakkan bersama-samanya macam dulu kerana aku akan simpati aku pada dia akan bertukar menjadi perbalahan " Jelas Hilmi.
"Dan kau puas hati dengan melarikan diri dari dia? kata Zikri tidak berpuas hati dan menambah, "apa kata korang ambil saja anak angkat?"
"Anak angkat tak sama dengan zuriat sendiri Zek, kau tak faham. Aku harapkan zuriat sendiri dan dalam masa yang sama aku tahu dia tak mampu, ibu dan kakak-kakak aku pun dah bising, mereka suruh aku kawin lagi, tapi aku tak sanggup melukakan hati dia Zek. Aku tak sanggup". Ujar Hilmi.
--------------------------------------
Nura masih menanti, selalunya hujung minggu mereka akan terisi dengan pergi berjalan-jalan, membeli belah, atau setidak-tidaknya mengunjungi rumah saudara mara atau menjenguk orang tua Hilmi di kampung. Kini dah hampir 5 bulan mereka tidak menjenguk mertua dia. Dia sayangkan mertua dan iparnya yang lain macam saudara sendiri. Dia tidak punya ibu, maka dengan itu seluruh kasih sayang seorang anak dicurahkan kepada kedua mertuanya.
Sebolehnya setiap kali menjenguk mertua atau kakak-kakak iparnya dia akan bawakan buah tangan untuk mereka, biasanya dia akan menjahit baju untuk mereka, itulah yang selalu dibuat untuk menggembirakan hati mertuanya, maklumlah dia punya masa yang cukup banyak untuk menjahit. Selalunya juga dia akan buatkan kek atau biskut untuk dibawa pulang ke kampung suami tersayangnya. Dan mereka akan gembira sekali untuk pulang ke kampung, tapi kini... aarghh rindunya Nura pada abang.
Nura tahu Hilmi pergi memancing sebab dia bawa bersama segala peralatan memancing, dan hari ini sekali lagi Nura menjadi penghuni setia rumah ini bersama setianya kasihnya kepada Hilmi. Nura masih tidak menaruh syak pada Hilmi, dia masih cuba memasak sesuatu yang istemewa untuk Hilmi bila dia pulang malam nanti, tapi Nura takut dia kecewa lagi. Arghh tak apalah,
demi suami tercinta. Aaarggh Rindunya Nura pada abang.
--------------------------------------
"So you dah tahu I dah kawin, tapi you masih sudi berkawan dengan I kenapa? Adakah kerana simpati atau ikhlas?" tanya Hilmi pada Zati yang dikenali dua minggu lepas semasa mengikut teman-teman pergi memancing. Sejak itu Zati menjadi teman makan tengaharinya, malah kadang teman makan malamnya.
"I ikhlas Hilmi, dan I tak kisah kalau jadi yang kedua, I dah mula sayangkan you". Zati berterus terang. Lega hati Hilmi, tapi Nura?
--------------------------------------
"Abang,Nura tak berapa sihatlah bang rasa macam nak demam saja," adu Nura pagi tu, sebelum Hilmi ke pejabat.
"Ye ker? Ambil duit ni, nanti Nura call teksi dan pergilah klinik ye, abang tak boleh hantar Nura ni." jawapan Hilmi yang betul-betul membuatkan Nura mengalirkan air mata. Tidak seperti dulu-dulu, kalau Nura sakit demam Hilmi sanggup mengambil cuti, bersama-sama menemani Nura. Arrgg rindunya Nura pada abang. Disebabkan Nura terlalu sedih dan kecewa, dia mengambil keputusan tidak mahu ke klinik selepas makan dua bijik panadol, dia terus berbaring.
Sehingga ke petang, badan dia semakin panas dan kadang terasa amat sejuk, kepalanya berdenyut-denyut. Nura menangis lagi.
Malam tu, seperti biasa Hilmi pulang lewat setelah menemani Zati ke majlis harijadi kawannya. Nura masih setia menunggu dan dia rasa kali ini dia ingin luahkan segala perasaan rindu dan sayangnya pada Hilmi. Tak sanggup lagi dia menanggung rindu yang amat sarat ini, rindu pada manusia yang ada di depan
mata setiap hari. Aargh rindunya Nura pada abang.
Apabila Hilmi selesai mandi dan tukar pakaian, Nura bersedia untuk membuka mulut, ingin diluahkan segalanya rasa rindu itu, dia rasa sakit demam yang dia tanggung sekarang ini akibat dari memendam rasa rindu yang amat sarat.
"Abang, Nura nak cakap sikit boleh?" Nura memohon keizinan seperti kelazimannya.
"Nura, dah lewat sangat esok sajalah, abang letih," bantah Hilmi.
"Tapi esok pun abang sibuk jugak, abang tak ada masa, dan abang akan balik lambat, Nura tak berpeluang abang". ujar Nura dengan lembut.
"Eh..dah pandai menjawab,"perli Hilmi.
Meleleh air mata Nura, dan Hilmi rasa bersalah dan bertanya apa yang Nura nak bincangkan.
"Kenapa abang terlalu dingin dengan Nura sejak akhir-akhir ni? Tanya Nura.
"Nura, abang sibuk kerja cari duit, dengan duit tu, dapatlah kita bayar duit rumah, duit kereta, belanja rumah dan sebagainya faham?" Hilmi beralasan.
Nura agak terkejut, selama ini Hilmi tak pernah bercakap kasar dengan dia, dan dia terus bertanya, "dulu Abang tak macam ni, masih ada masa untuk Nura, tapi sekarang?" Ujar Nura.
"Sudahlah Nura abang dah bosan, pening, jangan tambahkan perkara yang menyesakkan dada", bantah Hilmi lagi.
"Sampai hati abang, abaikan Nura, Nura sedar siapa Nura, Nura tak mampu berikan zuriat untuk abang dan abang bosan kerana rumah kita kosong, tiada suara tangis anak-anak bukan? " dan Nura terus bercakap dengan sedu sedan.
"Sudahlah Nura abang dah bosan, jangan cakap pasal tu lagi abang tak suka. Bosan betul... "
Pagi tu, Hilmi keluar rumah tanpa sarapan, tanpa bertemu Nura dan tanpa suara pun. Nura makin rindu pada suaminya, demamnya pula kian menjadi-jadi.
Malam tu Hilmi terus tidak pulang ke rumah, Nura menjadi risau, telefon bimbit dimatikan, Nura risau, dia tahu dia bersalah, akan dia memohon ampun dan maaf dari Hilmi bila dia kembali. Nura masih menanti, namun hanya hari ketiga baru Hilmi muncul dan Nura terus memohon ampun dan maaf dan hulurkan tangan tetapi Hilmi hanya hulurkan acuh tak acuh sahaja. Nura kecil hati dan meminta Hilmi pulang malam nanti kerana dia ingin makan bersama Hilmi. Hilmi sekadar mengangguk.
Tetapi malam tu Nura kecewa lagi. Hilmi pulang lewat malam. demam Nura pulak makin teruk, dan esoknya tanpa ditemani Hilmi dia ke klinik, sebab sudah tidak tahan lagi.
-------------------------------------
Abang pulanglah abang, pulanglah Nura ingin beritahu perkhabaran ini, pulang abang, doa Nura. Nura kecewa tapi masih menanti, bila masuk hari ketiga dia sudah tidak sabar lagi, dia menelefon ke pejabat. Dan telefon itu disambut oleh Zikri.
"Syukurlah Nura kau telefon aku, ada perkara aku nak cakap ni, boleh aku jumpa kau? tanya Zikri.
"Eh tak bolehlah aku ni kan isteri orang, mana boleh jumpa kau tanpa izin suami aku, berdosa tau", tolak Nura.
Pilunya hati Zikri mendengar pengakuan Nura itu. Setianya kau perempuan, bisik hatinya.
"Oklah kalau macam tu, aku pergi rumah kau, aku pergi dengan mak aku boleh?" pinta Zikri.
"Ok, kalau macam tu tak apalah, aku pun dah lama tak jumpa mak kau, last sekali masa konvo kita 6 tahun lepas kan?" setuju Nura.
-------------------------------------
"Eh kenapa pucat semacam ni? tegur Mak Siti. Nura hanya tersenyum penuh makna, dan membisik, "Allah makbulkan doa saya mak cik". Pilu hati Mak Siti dan betapa dia sedar betapa Allah itu Maha Mengetahui apa yang Dia lakukan.
Segera Mak Siti mendapat Zikri di ruang tamu dan khabarkan berita itu. Zikri serba salah.
"Nura, aku anggap kau macam saudara aku, aku tak tahu macam mana nak mulakan, aku harap kau tabah dan tenang, sebenarnya Hilmi dalam proses untuk berkahwin lagi satu, dan aku sayangkan korang macam saudara sendiri, dan aku tak sanggup rumah tangga korang musnah macam ni, kau tanyalah dengan Hilmi dan bincanglah, cubalah selamatkan rumah tangga korang." terang Zikri.
Nura menangis semahunya di bahu Mak Siti, rasa hampir luruh jantung mendengarkan penjelasan itu. Patutlah selalu tidak balik rumah. Berita gembira yang diterima pagi tadi, sudah tidak bermakna. Nura menantikan Hilmi sehingga ke pagi, namun dia masih gagal.
Dua hari kemudian Hilmi pulang dan sibuk mengambil beberapa pakaian penting, dan masa ini Nura bertekad untuk bertanya.
"Ya, betul apa yang Nura dengar tu, dan kami akan langsungkan jugak, dan abang takkan lepaskan Nura, itu janji abang, mak ayah pun dah tahu dan mereka tak kisah asalkan abang tidak lepaskan Nura, kerana mereka juga sayangkan Nura, dan Nura kena faham abang inginkan zuriat sendiri, walau apa pun persiapan sedang dibuat, abang janji takkan abaikan Nura." Janji
Hilmi.
Nura sayu mendengar, dan bagaikan kelu lidahnya untuk berkata-kata. Dan segala perkhabaran gembira itu terbunuh menjadi khabar duka. Nura terlalu kecewa.
-------------------------------------
Hilmi masih menanti di luar, rasa amat bersalah bersarang di kepala, sejak dihubungi Zikri, dia bergegas ke hospital apabila dimaklumkan Nura pengsan dan mengalami pendarahan. Doktor dan jururawat keluar masuk. Dia masih resah.
"Insya-Allah En. Hilmi, dua-dua selamat", terang doktor pada Hilmi.
"Dua-dua apa maksud doktor? tanya Hilmi.
"Dua-dua ibu dan baby dalam kandungan tu, tapi dia kena banyak berehat kerana rahimnya tidak begitu kukuh, saya takut banyak bergerak akan menyebabkan berlaku keguguran, tapi kami dah mulakan injection untuk kuatkan paru-paru baby dan jahitkan rahim dia dan bersedia untuk early delivery dalam kes macam ni," terang doktor.
"Ya Allah Nura mengandung, Ya Allah berdosanya aku pada Nura, kesal Hilmi. Malu rasanya untuk menatap muka Nura.
"Kenapa Nura tak bagi tahu abang yang Nura mengandung? kesal Hilmi.
"Nura memang nak bagitau abang tapi, bila abang cakap abang sudah bertunang dan akan berkahwin dengan perempuan Nura tak sampai hati bang, Nura tak sanggup abang malu dan keluarga abang malu." Jelas Nura.
"Nura sebenarnya, abang belum bertunang dengan budak tu, abang cuma sekadar berkawan sahaja. Belum pernah abang bincangkan soal kawin lagi, dan abang tak sanggup nak teruskan hubungan tu lagi kerana abang akan jadi ayah tidak lama lagi." janji Hilmi.
Kesal kerana mengabaikan Nura yang mengandung itu, membuatkan Nura risau dan akhirnya pitam di halaman rumah, mujurlah ada jiran nampak dan membawa ke hospital, dan mujur jugak Nura pengsan di halaman, dapat dilihat orang.
--------------------------------------
"Mama, kenapa mama buat tu, biarlah mak yang buat," marah Hilmi bila melihatkan Nura cuba menyapu lantai. Sejak keluar hospital hari tu, mertua dia meminta supaya Nura tinggal saja di rumah sehingga bersalin kerana dia memang tidak dibenarkan doktor melakukan sebarang kerja, bimbang keguguran kerana rahimnya tidak kuat.
"Ala Papa ni, biarlah mama buat sikit sajalah." balas Nura. Itulah panggilan manja mereka sekarang ni.
Dengan pengawasan rapi doktor, yang setiap dua tiga sekali akan melakukan pemeriksaan, dan bila usia kandungan mencecah 6 bulan, doktor mengarahkan supaya Nura hanya berehat di hospital, supaya senang mengawasi Nura dan andainya apa-apa berlaku Nura akan terus dibedah untuk menyelamatkan nyawanya dan bayi yang dikandung. Setiap hari Nura akan dilawati oleh Hilmi. Nura amat bahagia, ternyata bayi yang dikandung membawa sinar, amat berharga kehadiran dia nanti, sebab itulah Nura sanggup tinggal di hospital, sanggup menelan berjenis ubat, sanggup disuntik apa saja semuanya demi bayi itu.
Kandungan sudah di penghujung 7 bulan, Nura amat bahagia merasakan gerakan-gerakan manja bayi yang dikandungnya. Setiap tendangan bayi dirasakan amat membahagiakan. Doktor makin teliti menjaga Nura, kerana bimbang berlaku pertumpahan darah, dan akhirnya apa yang dibimbangi para doktor menjadi nyata apabila Nura mengalami pertumpahan darah yang serius,
lantas terus dia ditolak ke dalam bilik bedah dalam masa beberapa minit sahaja. Hilmi tiba bersama ibu dan ayahnya, dia panik sekali, namun cuba ditenangkan oleh kedua orang tuanya. Hampir 1 jam berlalu, apakah khabarnya Nura di dalam sana. Hilmi makin risau, setengah jam kemudian doktor keluar.
Hilmi meluru "doktor bagaimana isteri saya ?", Hilmi terus bertanya.
"Sabar, kami telah cuba sedaya upaya, tahniah anak encik selamat, encik dapat anak perempuan, seberat 2.1 kilogram, dan kini kami cuba sedaya upaya untuk selamatkan Puan Nura Ain." terang doktor.
"Apa maksud doktor? Tanya Hilmi yang sudah tidak sabar.
"Begini, dia kehilangan banyak darah, kami cuba sedaya upaya menggantikan darahnya yang keluar itu, dan masih berusaha, namun rahimnya terus berdarah dan kami mohon kebenaran untuk membuang terus rahimnya demi menyelamatkan nyawanya." jelas doktor.
"Buatlah doktor, saya izinkan asalkan isteri saya selamat."
-------------------------------------
"Ermmm... lekanya dia sampai terlena." tegur Hilmi sambil membelai dan mengusap kepala Nur Syuhadah yang terlena akibat kenyang selepas menyusu dengan Nura. Nura hanya tersenyum. Hari ni genap seminggu usia Syuhadah. Nura Ain masih lemah akibat kehilangan banyak darah. Namun dikuatkan semangat demi Nur Syuhadah buah hatinya. Dia mencium sepenuh kasih sayang pipi comel anaknya itu. Dia membelai sayu wajah comel itu. Entah kenapa dia rasa seperti terlalu sayu hari itu, hatinya terlalu sepi, semalam dia mimpikan arwah ibunya, datang menjenguk dia dan Syuhadah, tanpa suara, ibunya hanya tersenyum. Dan akhirnya berlalu begitu sahaja. Hari ini Nura menjadi seorang perindu, dia rindukan ibunya, dan diceritakan perkara itu pada Hilmi.
"Mungkin mak Nura datang tengok cucu dia, dan dia amat gembira". pujuk Hilmi menenangkan Nura.
"Abang... tolong Nura bang!!" laung Nura dari bilik air.
"Ya Allah Nura kenapa ni? Hilmi ketakutan. "Mak... tolong mak... makkkkkkkkkkk" Hilmi menjerit memanggil emaknya didapur.
"Cepat, bawak pergi hospital, cepat Hilmi" perintah Mak Zaharah.
---------------------------------------
"Maaf dia tidak dapat kami selamatkan, terlalu banyak darah yang keluar, dan kami tak sempat berbuat apa-apa, dia terlalu lemah dan akhirnya dia 'dijemputNya", terang doktor. Terduduk Hilmi mendengarkan hal itu.
Jenazah selamat dikebumikan. Syuhadah seakan mengerti yang dia sudah tidak akan menikmati titisan-titisan susu Nura Ain lagi. Syuhadah menangis seolah-olah ingin memberitahu dunia yang dia perlukan seorang ibu, seorang ibu yang bersusah payah, bersabung nyawa demi untuk melihat kelahirannya.
Demi membahagiakan papanya, demi membahagiakan neneknya. Syuhadah terus menangis seolah-olah tidak rela dia dipisahkan dengan ibunya hanya bersamanya untuk sekejap cuma. Semua yang hadir kelihatan mengesat mata, tidak sanggup mendengar tangisan bayi kecil itu. Semua terpaku dan terharu, Hilmi mendukung Syuhadah dan memujuk bayi kecil itu, akhirnya dia
terlelap didakapan papanya.
---------------------------------------
Abang yang Nura rindui,
Abang, maafkan Nura kerana selama ini tidak mampu menjadi isteri yang terbaik buat abang. Saat abang membaca surat ini, mungkin Nura sudah jauh meninggalkan abang, Nura tak harapkan Nura akan selamat melahirkan anak ini, tapi Nura harap bayi akan selamat walau apa yang terjadi pada Nura. Itu harapan Nura bang. Nura masih ingat, rumah tangga kita hampir runtuh kerana Nura tidak mampu memberikan zuriat buat abang, tapi bang, kali ni doa Nura dimakbulkan, dan untuk itu, biarlah Nura menanggung segala kepayahan demi zuriat ini bang.
Saat Nura menulis surat ini, Nura masih lagi menjadi penghuni setiap katil hospital ini. Baby kita makin nakal bergerak bang, tapi Nura bahagia merasa setiap tendangan dia abang, Nura bahagia, cukuplah saat manis ini Nura dan dia. Nura rasakan setiap pergerakannya amat bermakna, dan andainya ditakdirkan Nura hanya ditakdirkan untuk bahagia bersama dia hanya dalam
kandungan sahaja Nura redha bang. Siapalah Nura untuk menolak ketentuanNya. Nura tak mampu abang.
Cukup bersyukur kerana sekurang-kurangnya Allah makbulkan doa Nura untuk mengandungkan zuriat dari benih abang yang Nura cintai dan kasihi selamanya. Nura redha sekiranya selepas ini walau apa terjadi, Nura redha, kerana Allah telah memberikan Nura sesuatu yang cukup istemewa, dan andainya maut memisahkan kita Nura harap abang redha sebagaimana Nura redha.
Syukurlah sekurang-kurang Allah berikan nikmat kepada Nura untuk merasai nikmatnya menjadi seorang ibu walau cuma seketika.
Andai apa yang Nura takutkan terjadi, dan bayi ini dapat diselamatkan Nura harap abang akan jaganya dengan penuh kasih sayang. Nura harap abang jangan biarkan hidupnya tanpa seorang ibu. Cuma satu Nura harapkan dia akan mendapat seorang ibu yang mampu menjaga seorang anak yatim dengan baik dan menjaganya dengan penuh kasih sayang. Seumur hayat Nura, Nura tak pernah meminta sesuatu dari abang, dan kini inilah permintaan Nura, janjilah anak ini akan mendapat seorang ibu yang penyayang.
Abang yang Nura rindui...
Dulu sewaktu rumah tangga kita dilandai badai, Nura ingin sangat ucapkan kata-kata ini pada abang, tapi Nura tak berkesempatan, dan walaupun kini Nura tiada lagi, tapi Nura nak abang tahu yang...
Nura rindukan abang... ... Nura rindu sangat dengan abang... ..rindu bang... rindu sangat... .
Sekian,
pengarang nabila bt zainon
Langgan:
Catatan (Atom)




